Beranda > Islami > Lidah

Lidah

“Sesungguhnya kebanyakan dosa anak Adam berada pada lidahnya” (HR. Thabrani dan Al-Baihaqi)

Bayangkan kalau kita menderita sariawan. Tidak tanggung-tanggung, sariawan itu ada di atas lidah. Beberapa bagian lidah kita seolah melepuh dan menimbulkan luka cukup besar. Anda bisa bayangkan, betapa menderitanya kita selama beberapa hari. Makan tidak enak, bahkan cenderung dipaksakan ketimbang dinikmati karena mungkin kita terancam maag jika tidak makan. Bicara pun harus diatur sedemikian rupa jangan sampai menimbulkan gesekan pada bagian-bagian lidah yang luka.

Pada saat-saat lidah kita berkurang fungsinya, bahkan kita rasakan lebih banyak menyumbang rasa sakit, biasanya kita baru menyadari betapa berharganya sepotong lidah bagi seorang manusia. Hanya karena lidah kita melepuh karena sariawan saja, kita sudah merasakan betapa tersiksanya seluruh bagian rongga mulut kita, bahkan tidak nyamannya aktifitas hidup kita. Apalagi jika Allah SWT mencabutnya. Kesengsaraan macam apa yang bisa menggambarkan penderitaan kita?.

Allah SWT memberikan lidah kepada kita minimal untuk dua fungsi utama. Pertama, mengecap rasa, sehingga kita bisa menikmati aneka makanan yang harus kita konsumsi setiap harinya untuk menunjang kebutuhan fisik kita. Dengan kemampuan lidah seperti itu, aktifitas makan yang kita lakukan tidak hanya sekedar mengisi perut untuk menyuplai energi keseluruh tubuh, tetapi juga menikmati gigitan demi gigitan aneka rasa sedap dari makanan yang sedang kita santap. Dengan kemampuan ini manusia bisa menikmati aktifitas makan sebagai aktifitas yang menyenangkan.

Kedua, lidah mengatur bunyi yang keluar dari rongga mulut kita sehingga memungkinkan kita mampu mengeluarkan suara dengan bermacam-macam bunyi yang berbeda-beda dalam bentuk kata-kata yang membuat kita bisa berkomunikasi dengan orang lain. Pada sisi ini lidah memiliki sisi sosial yang penting, yaitu mengkomunikasikan gagasan atau pesan antar sesama manusia yang memungkinkan manusia bisa hidup bermasyarakat dengan aturan-aturan yang mampu mereka pahami bersama.

Dengan dua fungsi utama itu, lidah menjadi anugerah besar bagi umat manusia. Ia menjadi salah satu dari berjuta nikmat Tuhan yang tidak bisa kita ukur dengan harta yang kita miliki. Akan tetapi, jika kita tidak mampu menjaga lidah kita, anugerah besar itu akan berubah menjadi petaka besar dalam kehidupan kita.

Lidah bisa mempertemukan dua hati yang sebelumnya tidak saling kenal. Lidah bisa mencairkan hati yang keras dan penuh amarah. Tetapi lidah juga bisa menusuk hati orang lain, mengobarkan permusuhan dan dendam bahkan menciptakan perang besar. Sepotong lidah bisa lebih buas dari mulut harimau, lebih tajam dari pisau silet dan lebih panas dari kobaran api.

Persahabatan yang hangat bisa berubah menjadi permusuhan abadi karena lidah yang tidak terjaga. Hubungan harmonis dengan tetangga bisa berubah menjadi pertengkaran sengit gara-gara lidah yang diumbar sesuka hati. Bahkan kelembutan hati seorang ibu bisa berubah menjadi sumpah dan kutukan jika lidah tidak dikekang. Maka tidak heran jika Rasulullah SAW menyatakan bahwa kebanyakan dosa manusia bersumber dari lidahnya. Wallahu a’alm bishawwab.

(Sumber : Hidayah Edisi 47, hal 7)

Kategori:Islami Tag:, ,
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: