Beranda > Islami > Misteri Hidup

Misteri Hidup

“Hidup adalah sebuah misteri. Sedikit sekali diantara kita yang mampu menebak misteri hidup. Hanya para nabi, wali, dan orang-orang saleh saja yang bisa memahaminya. Karena itu banyak sekali diantara kita yang tidak beribadah, terjebak dalam narkotika, minum-minuman keras, melakukan tindak kejahatan dan perbuatan buruk lainnya. Mereka inilah yang tidak mengerti akan hakikat hidup.”

Alkisah, di suatu daerah tertentu hiduplah seorang yang sangat kaya raya. Dia mempunyai seorang putra yang sangat disayanginya. Setelah genap berusia 12 tahun, dia dikirim orang tuanya untuk belajar ilmu yang penting penting kepada para sarjana yang arif. Selesai belajar ke Timur, dia pergi lagi menuju Barat. Habis yang dipelajarinya di Utara, dia belajar pula ke Selatan.

Hampir 12 tahun dia menuntut ilmu. Dalam usia 24 tahun dia pulang ke kampung halamannya. Didalam tasnya berisi penuh dengan surat-surat ijazah. Tak ada lagi rahasia pengetahuan yang tidak diketahuinya.

Keadaan itu membuatnya sombong. Dia merasa menjadi orang yang paling tahu. Dia memandang derajat orang lebih rendah dari dirinya. Sang Ayah memperhatikan sikap anaknya. Si Ayah melihat anaknya seperti sebuah pepatah, “Bagai lonjak labu dibenam, melonjak naik karena kosong isinya. Bagai kacang direbus sebuah, menari-nari dalam kuali karena tidak bertemu lawan.” Si Ayah memandang anaknya sudah berilmu, tetapi belum berisi.

Pada suatu hari si Ayah memanggil puteranya duduk didekatnya dan dia berkata: “Anakku sayang!, Ayah lihat engkau pongah benar karena merasa pengetahuanmu sudah banyak. Cuma satu agaknya yang engkau belum tahu dan belum engkau pelajari. Ilmu yang belum engkau pelajari itu ialah ilmu yang akan melatih engkau untuk dapat mendengar perkara yang tidak dapat ditangkap oleh telinga. Dan dapat melihat perkara yang tidak dapat ditangkap oleh mata. Itulah inti dari segala ilmu. Dengan ilmu ini engkau dapat mengetahui perkara yang tidak diketahui oleh orang lain.”

Dengan tercengang si anak menjawab, “Ilmu apakah itu Ayah?. Belum pernah ananda mendengar, ada juga ilmu seperti itu.”

“Ilmu yang akan Ayah ajarkan itu serupa dengan “ilmu tanah”. Dari tanah orang dapat membuat berbagai aneka bentuk barang. Bila engkau mengetahui rahasia tanah dan pembentukannya, niscaya tahulah engkau sifat segala barang yang dibuat dari tanah. Tahulah engkau jika ada periuk, jika ada belanga, jika ada piala dan lain-lain, hanya namanya yang beraneka-ragam, namun hakikatnya hanya satu, yaitu tanah. Tak lain dari tanah. Demikian pula dengan ilmu yang akan Ayah ajarkan ini. Jika engkau dapat mengetahui puncaknya, tahulah engkau segala sesuatu yang berasal daripadanya.”

Si anak menggeleng-gelengkan kepala. “Sudah banyak guru tempat ananda belajar, 12 tahun meninggalkan kampung, dari pondok ke pondok, dari asrama ke asrama, belum ada yang mengajarkan ilmu demikian kepada ananda.”

“Coba bawa buah semangka itu ke mari!”

“Ini dia, Ayah.”

“Coba belah!”

“Sudah ananda belah, Ayah.”

“Apa yang engkau dapati didalamnya?”

“Biji kecil-kecil Ayah.”

“Coba pecahkan pula sebuah dari biji-biji kecil itu!”

“Ini sudah ananda pecahkan.”

“Apa yang engkau lihat didalamnya?”

“……Tidak ada apa-apa Ayah.”

“Engkau melihat buah itu dipetik dari pohon yang hidup. Tetapi setelah engkau pecahkan sampai kepada biji yag kecil-kecil, engkau tak melihat apa-apa. Maka yang tidak engkau lihat itu, itulah dia roh. Itulah dia hidup!. Memang tidak nampak oleh matamu, tetapi roh yang tidak nampak itulah yang menyebabkan pohon tegak, dia ada tapi tak nampak. Dialah yang menegakkan segala yang ada ini. Itulah kebenaran, itulah nyawa, itulah aku, itulah engkau!”

“Baru sekali ini ananda mendengar keterangan demikian, Ayah. Tambah lagi, Ayah, tambah lagi”.

“Ambil secercah garam itu, masukkan kedalam cangkir air dan bawa ke hadapan Ayah besok pagi!”

Perintah itu dilaksanakan oleh si anak dan di waktu subuh dia datang lagi duduk bersila dengan khidmat di hadapan ayahnya.

“Bawa kemari garam kemarin!” kata si ayah.

“Ananda tidak sanggup Ayah. Garam itu telah lenyap didalam air”

“Coba cicip air itu dari atas dan katakan kepada Ayah bagaimana rasanya!”

“Asin!”

“Cicip yang sebelah bawah!”

“Asin”

“Cicip di tengah!”

“Juga asin, Ayah”

“Tuangkanlah air itu di pasir di halaman rumah, dan datang lagi ke hadapanku besok pagi!”

Besok pagi si anak datang lagi. Mereka berdua pergi ke halaman rumah menyaksikan bahwa air itu telah dihisap oleh pasir, dan yang tinggal adalah garam putih.

“Demikianlah raga badanmu ini, Nak. Engkau tidak sadar bahwa kebenaran itu ada didalamnya. Laksana garam ada didalam air. Itulah dia roh!. Itulah dia nyawa! Itulah dia aku, itulah dia engkau.”

Kelihatannya cukup sederhana tapi begitu dalam sekali maknanya. Meskipun kita pandai, banyak ilmu pengetahuan yang kita kuasai: matematika, bahasa inggris, komputer, fisika dan sebagainya, tetapi jika sombong semua itu tak ada artinya. Di atas semua ilmu yang kita milki ada lagi ilmu yang paling tinggi, yaitu ilmu kebjaksanaan atau hikmah.

Kisah diatas menunjukkan kepada kita bahwa meskipun sang anak merasa dirinya telah berhasil menuntut ilmu , tetapi hal itu tetap dinilai kurang menurut ayahnya. Sebab sang anak tumbuh menjadi pribadi yang sombong. Karena itu, orang yang punya kebijaksanaan tinggi itu lebih baik dibandingkan dengan orang punya ilmu tinggi tapi bersikap angkuh.

Hamka pernah membuat perumpamaan menarik seputar persoalan di atas sebagai berikut:

Seekor anjing mati karena ditabrak mobil. Orang yang lalu-lalang mengaiskan bangkai anjing itu ke tepi jalan. Beberapa hari kemudian bangkai anjing itu menjadi busuk. Ia sudah mulai hancur, hampir tinggal tulang. Beribu-ribu ulat hinggap di bangkai anjing tersebut.

Seperti manusia, ulat-ulat itu berhati, berjantung, bermata dan bertelinga. Bagi seorang sarjana hal itu mudah diketahuinya. Tetapi ia tak kuasa menjawab, mengapa ulat-ulat itu jadi hidup?. Sekiranya ahli kimia yang cerdik mencoba mencampurkan unsur karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen sesuai takarannya, mungkin dia bisa mencampurkan , tetapi dia tak dapat membuatnya hidup.

Sel dari tumbuh-tumbuhan yang paling rendah sampai kepada insan yang amat agung, tersusun daripada unsur yang tersebut itu. Sarjana hanya dapat menyelidiki sehingga terbukti bahwa dia ada, tetapi mereka tidak sanggup menciptakannya dari tidak ada, apalagi memberinya hidup.

Diantara unsur kebendaan dan unsur kehidupan terdapatlah batas. Ilmu tidak sanggup melintasi batas itu. Sebab itu ada sebuah ungkapan, “Perhentian penghabisan dari ilmu ialah permulaan filsafat dan perhentian penghabisan dari filsafat ialah permulaan agama.” Maka benarlah apa yang difirmankan Allah dalam Al-Qur’an,

“Sesungguhnya sesuatu yang engkau puja selain Allah, sekali-kali tidaklah sanggup menjadikan lalat, meskipun mereka berkumpul untuk itu. Dan jika lalat mencabut sesuatu daripada mereka, tidaklah mereka dapat membangkitkannya. Lemah yang menuntut dan lemah yang dituntut. Mereka tidaklah dapat menilai Allah dengan sebenarnya nilaian. Sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Teguh.” (QS. Al-Hajj [22]: 73-74).

Dengan sombong manusia abad ke-20 seakan-akan menuhankan ilmu dan menabikan sarjana. Seakan-akan segala persoalan dapat dipecahkan oleh mereka. Padahal menciptakan lalat dan nyamuk yang kecil saja mereka tidak sanggup.

Memang banyak soal yang hendak dipecahkan dengan ilmu dan penyelidikan didalam alam terbuka ini. Tetapi sedikit sekali ilmu pengetahuan dan teknologi yang mampu menjangkaunya. Dinding untuk sampai kedalam daerah itu ialah hidup itu sendiri. Buat mengetok pintu hidup hanyalah agama!.

Karena itu, kunci dari segala hidup itu adalah agama. Agar kita tidak sombong dengan kepandaian, angkuh dengan apa yang dimiliki dan arogan dengan karunia Tuhan yang kita dapatkan, maka pertajamlah nilai kualitas agama kita. Orang yang semakin dekat dengan agama, maka kian mengerti pula akan arti hidup. Dengan kata lain, orang-orang yang bisa mengungkap sebuah misteri hidup itu hanyalah mereka yang dekat dengan agama alias dekat dengan Tuhan. Siapakah mereka, yaitu para nabi, wali, dan orang-orang saleh. Semoga kita bisa menjadi bagian dari  orang-orang saleh. Amien.

(Sumber : Hidayah edisi 47 hal: 60)

Kategori:Islami Tag:,
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: