Beranda > Andragogi > Pembelajaran Pada Orang Dewasa,tugas 1

Pembelajaran Pada Orang Dewasa,tugas 1

Belajar adalah suatu proses yang pasti akan dialami setiap manusia. Tidak ada manusia yang tidak belajar. Baik disadari ataupun tidak, proses belajar itu sendiri merupakan hal yang penting. Dapat dibayangkan jika kita hidup namun tidak belajar. Tidak mungkin ada pengetahuan yang akan kita peroleh. Dan tentu kesulitan-kesulitanlah yang akan mendatangi kita.

Seperti yang dikatakan sebelumnya, proses belajar pada setiap orang berbeda-beda. Namun, puncak dari keefektifan belajar pada manusia adalah ketika umur relatif masih muda. Para psikolog perkembangan mengatakan bahwa pada usia muda, otak dapat menangkap dan menyerap informasi lebih banyak dan efektif. Lalu bagaimana dengan orang dewasa?.

Ada pepatah yang mengatakan, “Belajar di waktu muda bagai menulis (memahat) diatas batu, sedangkan belajar di waktu tua bagaikan menulis diatas air”. Atau dengan kata lain belajar di usia muda, ilmu yang dipelajari cenderung akan bertahan lebih lama didalam memori ketimbang belajar diwaktu tua.  Jadi, bagaimana dengan orang-orang yang berkecimpung dalam POD (Pendidikan Orang Dewasa), apakah pekerjaan mereka sia-sia?. Ataukah ada yang salah dengan pepatah ini?.

Memang benar belajar pada usia dewasa (tua) lebih sulit dibandingkan belajar diwaktu muda. Namun pendidikan orang dewasa telah didesain dengan cara yang berbeda dari pendidikan biasa. Tidak seperti pendidikan pada waktu SD, SMP, ataupun SMA. Sistem pengajaran pada orang dewasa membutuhkan keterlibatan dalam pengaplikasian pembelajaran. Yusnadi (200-) mengatakan, orang tidak akan belajar apapun kalau dia tidak melakukannya. Para pendidik (fasilitator) dalam setiap sesi pendidikan dewasa yang dilakukannya, apapun itu pasti  akan selalu melibatkan peserta untuk aktif dalam mempraktekkan apa yang mereka pelajari. Bukan hanya sekedar mendengar dan melihat.

Banyak orang dewasa menganggap bahwa pendidikan sudah tidak cocok lagi untuk mereka. Pendidikan hanya untuk mereka yang masih muda saja. Hal inilah yang sering melanda persepsi orang dewasa yang menyebabkan terjadinya keengganan untuk belajar. Jadi sebenarnya masalah terletak pada keinginan mereka sendiri. Suprijanto (2007) menjelaskan bahwa keinginan belajar merupakan hal yang sangat penting yang dapat meningkatkan efektifitas belajar. Jika proses pendidikan ingin berjalan sukses, maka peserta didik harus mempunyai keinginan belajar. Tanpa hal itu, peserta didik akan sulit berhasil.

Faktor afektif lain yang berperan dalam hal ini adalah faktor sikap, idealisme, dan minat (Suprijanto, 2007). Istilah sikap disini adalah berarti perasaan seseorang terhadp orang lain, objek, dan lain sebagainya. Sikap yang positif cenderung akan mempunyai efek yang positif pula dalam pembelajaran, begitu pula sebaliknya.

Sekarang mari coba untuk merefleksikan cerita ini kedalam diri Anda sendiri.

Anda sedang mengikuti sebuah seminar ataupun ceramah dari seseorang yang sangat Anda kagumi. Anda mengikuti dan memuji setiap perkataannya. Anda juga akan mengerti terhadap ilmu yang dia bagikan. Namun, coba Anda juga bayangkan, sedang mendengar ceramah dari seseorang yang biasa-biasa saja, atau mungkin sama levelnya dengan Anda, betapapun bagusnya materi yang ia sampaikan.

Dari kedua situasi diatas, tentu situasi pertama akan lebih mengena dengan Anda. Hal ini membuktikan bahwa pengaruh sikap begitu signifikan dalam proses pembelajaran.

Begitu juga dengan idealisme dan minat. Idealisme menyangkut tentang standar kesempurnaan yang subjektif (Suprijanto, 2007). Idealisme mempengaruhi bagaimana seharusnya seseorang bertindak, dan ini berkorelasi dengan kemauan seseorang untuk belajar. Sedangkan minat akan memperkuat keinginan seseorang untuk belajar terhadap sesuatu yang ia minati. Seseorang yang belajar karena minat akan mempunyai semangat yang besar, dan akan semakin besar hasil kerjanya.

Namun yang terpenting, adalah bagaimana caranya untuk menemukan diri sendiri. Ada prinsip yang mengatakan, “Jika kamu hanya mendengar, kamu akan melupakan. Jika kamu mendengar dan melihat, kamu akan mengingatnya, namun kamu belum tentu terampil. Jika kamu melihat, mendengar, dan melakukan, kamu akan ingat dan terampil, namun kamu belum tentu mau melakukannya. Namun jika kamu menemukan sendiri/ discover minat kamu, kamu akan mau melakukannya, punya niat untuk melihat dan mendengar, serta menjadi terampil. “

 

Referensi :

  • Suprijanto, H. (2007). Pendidikan Orang Dewasa; dari teori hingga aplikasi. Jakarta: Bumi Aksara.
  • Yusnadi, (200-). Andragogi, Pendidikan Orang Dewasa. Medan: Unimed Press.

 

Kategori:Andragogi Tag:,
  1. lukman hakim
    10/05/2011 pukul 9:29 pm

    belajar diwaktu dewasa/tua bagaikan air yang jatuh di daun talas.

  1. 23/02/2011 pukul 9:24 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: