Beranda > Andragogi > Asosiasi Pengalaman dengan Proses Belajar,tugas2

Asosiasi Pengalaman dengan Proses Belajar,tugas2

Seperti yang telah saya bahas sebelumnya (Pembelajaran Pada Orang Dewasa), orang dewasa mendapatkan cara yang berbeda dalam mendapatkan pengetahuan. Pengetahuan yang mereka peroleh seringkali berkaitan dengan pengalaman yang mereka alami. Dalam setiap kesempatan belajar, orang dewasa selalu berkehendak untuk menghubungkan pengalaman masa lalunya dengan apa yang sekarang mereka pelajari (Yusnadi, 200-). Dengan cara ini, orang dewasa menjadi lebih mudah untuk mengimajinasikan apa yang mereka peroleh dari belajar dengan mengasosiasikannya dengan pengalaman masa lalu mereka.

Seringkali proses ini tidaklah selalu berjalan dengan mulus. Seringkali orang dewasa sulit mengingat pengalaman spesifik yang sesuai dengan materi pembelajaran, terutama bagi mereka yang berusia lanjut. Untuk menjawab permasalahan ini, tidak ada solusi yang benar-benar efektif diterapkan bagi kebanyakan orang. Namun, salah satu solusi yang bisa ditawarkan adalah dengan memfokuskan pada peristiwa pengajaran orang dewasa.

Dalam pendidikan orang dewasa, pembelajaran adalah suatu proses. Hal ini biasa disebut peristiwa pengajaran. Menurut Gange dan Briggs (dalam Suprijanto, 2007) peristiwa pengajaran adalah dirancang untuk membuat peserta didik bergerak dari “di mana dia berada” pada saat awal pengajaran menuju pencapaian kemampuan yang telah diterapkan dalam tujuan khusus pengajaran. Kata kunci dari statement ini adalah “bergerak”. Dengan kata lain, harus ada kemajuan (progress) dari sebuah pengajaran.

Kemajuan ini harus didukung dengan kemampuan yang mumpuni dari seorang fasilitator. Jika diibaratkan sebuah kelompok orkestra, fasilitator adalah konduktornya. Dialah yang memainkan peran penting dalam proses pengajaran. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, fasilitator harus bisa membuat peserta merasa ikut terlibat dengan aktif dalam pembelajaran. Salah satunya, harus bisa membuat peserta didik mengasosiasikan pengalamannya dengan pengajaran. Dengan ini, peserta didik bisa membuat semacam imaginative application didalam pemikiran mereka.

Bentuk komunikasi kepada peserta tidak dapat ditentukan dan berlaku untuk semua pelajaran, tetapi harus ditentukan untuk setiap pelajaran (Suprijanto, 2007). Tidak ada bentuk komunikasi yang mutlak bagi semua jenis bentuk pengajaran. Untuk itu, perlu dipilih bentuk komunikasi yang kira-kira efektif bagi tiap pelajaran. Dalam hal ini perlu feedback, dari peserta didik, pola komunikasi mana yang mereka sukai. Untuk itu, rasa nyaman peserta didik haruslah dipertimbangkan.

Referensi :

  • Suprijanto, H. (2007). Pendidikan Orang Dewasa; dari teori hingga aplikasi.Jakarta: Bumi Aksara.
  • Yusnadi, (200-). Andragogi, Pendidikan Orang Dewasa. Medan: Unimed Press.
Kategori:Andragogi Tag:, ,
  1. 06/05/2013 pukul 2:20 pm

    I am linking this webpage from my private blog . this has all
    of the usefull info necessary.

  2. 31/07/2013 pukul 8:29 am

    Greate post. Keep writing such kind of information on your blog.

    Im really impressed by your blog.
    Hi there, You’ve performed a great job. I’ll definitely
    digg it and in my opinion recommend to my friends.
    I’m sure they will be benefited from this site.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: